
Bireuen, Uniki – Nilai-nilai budaya Aceh kembali diperkenalkan di tingkat internasional. Tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), memperkenalkan tradisi Seumapa kepada mahasiswa INTI International University, Malaysia, dalam rangkaian kegiatan Visiting Lecture yang berlangsung pada 15 Juli 2026.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Nurhadi, M. Iqbal Ridwan, dan Syahrizal, mahasiswa semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh. Kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan Cut Santika, M.Pd, selaku dosen pendamping yang secara aktif membina mahasiswa dalam pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Aceh.
Pada kesempatan tersebut, para mahasiswa tidak hanya menjelaskan konsep Seumapa secara teoritis, tetapi juga menampilkan praktik penyampaian Seumapa sehingga mahasiswa INTI International University dapat merasakan secara langsung keindahan sastra lisan Aceh. Penampilan tersebut mendapat apresiasi karena mampu menunjukkan kekayaan bahasa, estetika sastra, serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam budaya Aceh.
Sejarah dan Makna Seumapa
Seumapa merupakan salah satu tradisi sastra lisan masyarakat Aceh yang diwariskan secara turun-temurun. Kata “Seumapa” berasal dari tradisi menyampaikan salam penghormatan, ungkapan selamat datang, pujian, doa, nasihat, maupun ungkapan penghormatan dalam bentuk syair atau pantun yang disampaikan dengan bahasa Aceh yang indah dan santun.
Dalam sejarahnya, Seumapa telah berkembang sejak masa Kesultanan Aceh sebagai bagian dari budaya komunikasi masyarakat. Tradisi ini lazim digunakan dalam berbagai acara adat seperti penyambutan tamu kehormatan, prosesi pernikahan, peusijuek, kenduri, musyawarah adat, hingga berbagai kegiatan resmi pemerintahan dan pendidikan. Seumapa menjadi media yang memperlihatkan kecerdasan berbahasa sekaligus mencerminkan karakter masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi adab, penghormatan kepada tamu, serta nilai-nilai Islam.
Keunikan Seumapa terletak pada penggunaan pilihan kata yang puitis, penuh makna, dan sarat pesan moral. Oleh karena itu, tradisi ini tidak hanya menjadi seni bertutur, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter dan pelestarian bahasa daerah.
Manfaat Seumapa bagi Masyarakat Aceh
Bagi masyarakat Aceh, Seumapa memiliki berbagai manfaat penting, antara lain:
Melestarikan bahasa Aceh sebagai identitas budaya daerah.
Menanamkan nilai kesopanan, penghormatan, dan etika dalam berkomunikasi.
Menjadi media penyampaian pesan moral, pendidikan, dan nilai-nilai keislaman.
Mempererat hubungan sosial antaranggota masyarakat melalui tradisi penyambutan yang penuh penghargaan.
Menjadi bagian dari warisan budaya tak benda yang memperkuat identitas masyarakat Aceh di tengah perkembangan globalisasi.
Tradisi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Aceh memiliki peradaban yang kaya akan sastra, budaya, dan filosofi kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini.
Manfaat bagi Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh
Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman akademik yang sangat berharga. Selain meningkatkan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Aceh yang baik dan benar, mahasiswa juga memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan berbicara di depan publik, diplomasi budaya, dan pelestarian sastra lisan.
Kegiatan ini juga menjadi implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), di mana mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga mempraktikkannya dalam forum internasional. Pengalaman tersebut akan memperkuat kompetensi lulusan sebagai pendidik, peneliti, maupun pegiat budaya yang mampu mempromosikan kearifan lokal Aceh kepada dunia.
Memperkenalkan Budaya Aceh ke Tingkat Internasional
Pengenalan Seumapa kepada mahasiswa INTI International University merupakan bagian dari upaya internasionalisasi budaya lokal yang diusung Universitas Islam Kebangsaan Indonesia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dari berbagai negara memperoleh pemahaman bahwa Aceh memiliki tradisi sastra yang kaya, berkarakter Islami, serta mengandung nilai-nilai universal seperti penghormatan, persaudaraan, toleransi, dan perdamaian.
Selain memperluas wawasan budaya mahasiswa internasional, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, serta pertukaran budaya antara UNIKI dan INTI International University. Tradisi lokal yang diperkenalkan dalam forum internasional diharapkan dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Dukungan FKIP UNIKI
Dekan FKIP Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Dr. M. Taufiq, M.Pd, menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa dan dosen pembimbing yang telah membawa budaya Aceh ke panggung internasional.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata visi FKIP dalam menghasilkan lulusan yang unggul, berkarakter, serta mampu mengembangkan budaya lokal di tingkat nasional maupun internasional.
“Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh tidak hanya dituntut menguasai teori kebahasaan dan kesastraan, tetapi juga harus mampu menjadi duta budaya. Melalui kegiatan ini, mereka telah membuktikan bahwa budaya Aceh memiliki nilai akademik, edukatif, dan diplomatik yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat dunia. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut sehingga bahasa dan sastra Aceh semakin dikenal secara internasional,” ujar Dr. M. Taufiq.
Apresiasi Wakil Rektor III UNIKI
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Dr. H. Kamaruddin, S.Pd., M.M., CFRM, menilai kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari penguatan kompetensi mahasiswa melalui kolaborasi internasional.
Menurutnya, internasionalisasi perguruan tinggi tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama akademik, tetapi juga melalui diplomasi budaya yang melibatkan mahasiswa sebagai duta universitas.
“Kehadiran mahasiswa UNIKI di INTI International University bukan sekadar mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga membawa identitas budaya Aceh kepada masyarakat internasional. Seumapa mengajarkan penghormatan, etika, persaudaraan, dan nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter masyarakat Aceh. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa memperoleh pengalaman internasional, meningkatkan rasa percaya diri, memperluas jejaring global, serta memperkuat kecintaan terhadap budaya daerah. Inilah bentuk nyata implementasi program internasionalisasi UNIKI yang mengintegrasikan keunggulan akademik dengan pelestarian budaya lokal,” ungkap Dr. H. Kamaruddin.
Melalui penampilan Seumapa di INTI International University, mahasiswa UNIKI telah menunjukkan bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aset intelektual yang mampu menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Keberhasilan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus melestarikan sekaligus mempromosikan kekayaan budaya Aceh ke tingkat dunia.
