Oleh: Dr. H. Kamaruddin, S.Pd., M.M., CFRM
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia
Masyarakat Aceh mengenal sebuah ungkapan yang sederhana tetapi sarat makna: “Seunyang yang hana troh saban uroe, leubeh meunikmat.” Sesuatu yang tidak hadir setiap hari justru lebih terasa nikmat ketika datang. Filosofi ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pelajaran besar tentang cara manusia memaknai kehidupan.

Saya teringat sebuah kalimat yang belakangan sering beredar di berbagai ruang diskusi: “Kalau suka durian, tak usah memiliki kebun durian. Nikmat itu letaknya pada batas, bukan pada keberlimpahan.”
Sepintas terdengar bertentangan dengan logika ekonomi. Bukankah manusia bekerja keras agar memiliki lebih banyak? Bukankah keberhasilan sering diukur dari banyaknya aset yang dimiliki?
Namun, pengalaman hidup justru sering menunjukkan kenyataan yang berbeda. Yang membuat sesuatu terasa istimewa bukan karena jumlahnya melimpah, melainkan karena ia memiliki waktu untuk dirindukan.
Aceh adalah daerah yang sangat dekat dengan musim. Ada musim panen padi, musim durian, musim rambutan, musim ikan melimpah, bahkan musim kopi terbaik di dataran tinggi Gayo. Ketika musim durian tiba, masyarakat berkumpul bersama keluarga. Durian dinikmati sambil menyeruput kopi, berbincang hingga larut malam, dan tertawa tanpa banyak protokoler. Kenikmatannya bukan hanya pada rasa buahnya, tetapi pada momentum kebersamaan yang hanya datang sesekali.
Bayangkan jika durian tersedia setiap hari sepanjang tahun dalam jumlah tanpa batas. Barangkali rasa antusias itu perlahan menghilang. Durian tetaplah durian, tetapi rasa syukur manusialah yang berubah.
Di sinilah batas menjadi guru kehidupan.
Kita sering menganggap semakin banyak berarti semakin bahagia. Padahal, ilmu psikologi menjelaskan adanya hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia cepat terbiasa dengan segala bentuk kenikmatan. Rumah baru, kendaraan baru, jabatan baru, bahkan penghasilan yang lebih tinggi lambat laun berubah menjadi sesuatu yang biasa. Yang dahulu dianggap impian, kemudian menjadi standar baru yang terus menuntut tambahan berikutnya.
Akibatnya, manusia semakin kaya, tetapi tidak selalu semakin puas.
Masyarakat Aceh sesungguhnya telah lama mengajarkan filosofi “cukup”. Dalam tradisi meuseuraya atau gotong royong, kebahagiaan tidak diukur dari siapa yang paling banyak memiliki, melainkan dari siapa yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Ketika membangun meunasah, membersihkan gampong, menolong tetangga yang tertimpa musibah, atau memasak kuah beulangong untuk kenduri bersama, tidak ada yang menghitung siapa paling kaya. Yang dihitung adalah kebersamaan.
Nilai inilah yang perlahan mulai terkikis ketika ukuran keberhasilan bergeser menjadi semata-mata materi.
Perhatikan pula kehidupan sehari-hari.
Siapa yang paling menikmati malam Minggu?
Sering kali bukan mereka yang setiap hari dapat berlibur, melainkan para pekerja yang enam hari bergelut dengan rutinitas, sawah, kebun, kantor, pasar, atau laut. Setelah bekerja keras sepanjang pekan, secangkir kopi di warung sederhana atau berkumpul bersama keluarga menjadi hadiah yang sangat berarti.
Warung kopi di Aceh bahkan telah berkembang menjadi ruang sosial. Di sana orang berdiskusi tentang agama, politik, pendidikan, ekonomi, hingga sepak bola. Bukan karena kopinya selalu lebih enak dibanding tempat lain, tetapi karena ada ruang perjumpaan yang tidak selalu tersedia di tengah kesibukan hidup.
Begitu pula suasana meunasah selepas salat Isya, ketika masyarakat duduk bersama, bertukar kabar, atau bermusyawarah menyelesaikan persoalan gampong. Nilai yang dinikmati bukan sekadar percakapannya, tetapi kebersamaan yang lahir dari waktu-waktu yang tidak terus-menerus ada.
Begitulah kehidupan bekerja.
Kita menghargai sehat setelah pernah sakit.
Kita merasakan damainya rumah setelah lama berada di perantauan.
Kita memahami arti pulang karena pernah pergi.
Anak-anak Aceh yang merantau ke berbagai kota di Indonesia bahkan ke luar negeri sering mengatakan bahwa yang paling mereka rindukan bukanlah kemewahan, melainkan aroma masakan ibu, suara azan dari meunasah kampung, jalan kecil menuju rumah, atau secangkir kopi bersama sahabat lama.
Mengapa semuanya terasa begitu indah?
Karena ada jarak.
Karena ada batas.
Begitu pula rindu. Tidak akan pernah lahir jika tidak ada perpisahan. Kehadiran seseorang menjadi sangat berharga justru ketika kita pernah merasakan kehilangan.
Demikian pula kehidupan. Kita mampu menghargai waktu karena sadar umur manusia terbatas. Kesadaran akan kematian bukanlah ajakan untuk pesimis, melainkan pengingat agar setiap hari diisi dengan amal, karya, dan manfaat. Dalam ajaran Islam yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Aceh, dunia memang dipahami sebagai tempat singgah, bukan tujuan akhir. Kesadaran itulah yang semestinya membuat manusia lebih bijak dalam memandang harta, jabatan, dan berbagai kenikmatan dunia.
Hari ini kita hidup pada zaman yang memuja keberlimpahan. Media sosial dipenuhi perlombaan menunjukkan pencapaian, kekayaan, dan gaya hidup. Tanpa disadari, kita terdorong terus mengejar “lebih”. Lebih kaya, lebih terkenal, lebih banyak pengikut, lebih mewah.
Padahal, kebahagiaan sering kali bukan lahir karena memiliki lebih banyak, melainkan karena mampu mengatakan, “Ini sudah cukup.”
Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja keras. Namun, bekerja keras berbeda dengan diperbudak oleh keinginan yang tidak pernah selesai. Kekayaan yang terbaik bukanlah yang memenuhi gudang, tetapi yang memenuhi hati dengan rasa syukur.
Mungkin itulah sebabnya secuil durian yang dinikmati bersama keluarga selepas Magrib pada musim panen terasa jauh lebih lezat daripada sekeranjang durian yang tersedia setiap hari tanpa penantian.
Pada akhirnya, manusia tidak hidup dari keberlimpahan semata. Kita hidup dari kemampuan memberi makna terhadap setiap momen yang Allah anugerahkan. Sebab yang membuat hidup terasa indah bukan karena semuanya tersedia tanpa batas, melainkan karena setiap nikmat memiliki waktunya sendiri untuk datang, dirasakan, disyukuri, lalu dirindukan kembali.
Barangkali benar, nikmat itu bukan tinggal dalam keberlimpahan. Ia justru bersemayam pada batas.
