Waktu yang Ditanam, Diri yang Ditempah (Refleksi Perjalanan Bersama UNIKI)

Penulis: Muhammad, M. Pd

(Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam)

Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari sebuah cita-cita besar. Sebagian justru berawal dari langkah sederhana yang pada awalnya tampak biasa, tetapi kemudian mengubah arah kehidupan seseorang. Ketika saya mengikuti proses seleksi dosen di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) pada tahun 2021, saya tidak pernah membayangkan bahwa kampus ini kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Saat itu saya datang sebagai dosen biasa dengan latar belakang Pendidikan Agama Islam, membawa semangat untuk mengajar dan mengabdikan ilmu yang saya miliki. Tidak ada jabatan yang saya pikirkan, tidak ada posisi yang saya impikan. Yang ada hanyalah keinginan untuk menjalankan amanah sebagai pendidik dengan sebaik-baiknya.

Pada masa-masa awal, saya berada dalam posisi yang cukup unik. Bidang keilmuan yang saya miliki belum memiliki rumah akademik yang benar-benar sesuai di lingkungan kampus. Karena itu, saya harus mengajar di berbagai fakultas dan program studi yang berbeda. Dari satu ruang kelas ke ruang kelas lainnya, dari satu lingkungan akademik ke lingkungan yang lain, saya belajar beradaptasi dengan berbagai karakter mahasiswa, kebutuhan pembelajaran, dan dinamika organisasi yang beragam. Saat itu saya mengira bahwa saya hanya sedang menjalankan tugas sebagai dosen. Namun setelah melewati perjalanan beberapa tahun, saya menyadari bahwa pengalaman tersebut sesungguhnya sedang membentuk fondasi yang kelak sangat saya perlukan: kemampuan beradaptasi, kesediaan belajar, dan kesiapan menerima tanggung jawab yang lebih besar.

Perjalanan itu memasuki babak baru pada tahun 2023 ketika Yayasan memberikan amanah yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya dipercaya untuk terlibat dalam proses melahirkan Fakultas Agama Islam sebagai rumah akademik bagi dosen-dosen agama di lingkungan UNIKI. Amanah tersebut datang bukan ketika saya merasa paling siap, melainkan ketika saya masih berada dalam proses belajar memahami dunia pendidikan tinggi secara lebih luas. Namun saya percaya bahwa dalam kehidupan, tidak semua tanggung jawab menunggu seseorang siap terlebih dahulu. Ada kalanya tanggung jawab justru datang untuk membuat seseorang bertumbuh.

Membangun sebuah fakultas dari awal bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan hanya dengan semangat dan idealisme. Di dalamnya terdapat proses panjang yang dipenuhi berbagai tantangan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Banyak waktu dihabiskan untuk menyusun dokumen, merancang kurikulum, memenuhi berbagai persyaratan akademik, membangun jejaring, serta meyakinkan masyarakat bahwa fakultas yang baru lahir ini memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Pada fase itu, tidak ada jaminan keberhasilan. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa setiap institusi besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dikerjakan dengan kesungguhan.

Saya masih mengingat bagaimana Fakultas Agama Islam memulai perjalanannya dengan jumlah mahasiswa yang dapat dihitung dengan jari. Delapan mahasiswa menjadi saksi lahirnya sebuah cita-cita besar. Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin tampak kecil dan tidak menjanjikan. Namun bagi kami yang berada di dalam proses itu, delapan mahasiswa tersebut adalah simbol kepercayaan yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Mereka bukan sekadar mahasiswa pertama, melainkan orang-orang yang bersedia mempercayakan masa depannya kepada sebuah fakultas yang bahkan sedang berjuang menemukan bentuk terbaiknya.

Hari ini, ketika Fakultas Agama Islam telah berkembang dengan dua program studi dan lebih dari lima ratus mahasiswa aktif, saya sering merenung tentang bagaimana perubahan besar itu terjadi. Jawabannya ternyata tidak pernah rumit. Ia tidak lahir dari satu keputusan besar atau satu momentum spektakuler. Ia tumbuh dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan setiap hari dengan penuh konsistensi. Dari rapat yang panjang, dokumen yang berulang kali direvisi, diskusi yang tidak mengenal jam kerja, serta keyakinan yang terus dipertahankan bahkan ketika hasilnya belum terlihat.

Dalam perjalanan tersebut, saya dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Dekan hingga tahun 2024 sebelum kemudian melanjutkan pengabdian sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik. Namun semakin lama saya menjalani proses ini, semakin saya memahami bahwa jabatan bukanlah inti dari perjalanan. Jabatan hanyalah amanah yang datang dan pergi sesuai kebutuhan institusi. Yang jauh lebih penting adalah pelajaran yang diperoleh selama menjalankannya. Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, tetapi nilai-nilai yang terbentuk selama menjalaninya akan tetap tinggal dalam diri seseorang.

Jika ada satu hal yang paling berharga dari seluruh perjalanan ini, maka itu bukanlah pertumbuhan jumlah mahasiswa, bukan pula berdirinya fakultas baru, apalagi posisi yang pernah saya emban. Hal yang paling berharga adalah perubahan yang terjadi dalam diri saya sendiri. Perjalanan ini mengajarkan bahwa tanggung jawab sering kali lebih berat daripada yang terlihat dari luar. Ia mengajarkan bahwa kesabaran bukan sekadar kemampuan menunggu, tetapi kemampuan tetap berjalan ketika hasil belum tampak. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan tentang berada di depan untuk mendapatkan penghargaan, melainkan kesediaan berdiri paling akhir ketika masalah datang menghampiri.

Tentu saja, semua itu memiliki harga yang harus dibayar.

Sebagian besar waktu produktif saya selama beberapa tahun terakhir dihabiskan di kampus ini. Banyak pagi dimulai sebelum matahari terbit dan berakhir ketika senja telah lama berlalu. Ada masa ketika ritme kehidupan saya hampir sepenuhnya menyatu dengan ritme kehidupan kampus. Berbagai agenda akademik, pengembangan fakultas, urusan kelembagaan, dan tanggung jawab administrasi sering kali mengisi sebagian besar hari-hari saya. Dalam kondisi seperti itu, saya mulai menyadari bahwa pengabdian sesungguhnya tidak hanya menuntut tenaga dan pikiran, tetapi juga menuntut waktu, sementara waktu adalah hal paling berharga yang dimiliki manusia.

Di titik inilah saya memahami bahwa setiap pencapaian selalu memiliki cerita yang tidak terlihat. Ketika orang melihat sebuah fakultas berkembang, mereka mungkin tidak melihat malam-malam panjang yang dilalui untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak kunjung selesai. Ketika orang melihat sebuah institusi bertumbuh, mereka mungkin tidak melihat kegelisahan, tekanan, dan kelelahan yang menyertainya. Dan ketika orang melihat seseorang mencapai sebuah posisi tertentu, mereka sering kali tidak melihat berapa banyak waktu yang telah dikorbankan untuk sampai ke titik tersebut.

Lebih dari itu, saya menyadari bahwa ada pihak yang turut membayar harga dari perjalanan ini, yaitu keluarga saya. Istri dan anak-anak adalah orang-orang yang paling sering menerima konsekuensi dari kesibukan yang saya jalani. Ada banyak momen yang tidak selalu dapat saya hadiri secara utuh. Ada waktu-waktu yang seharusnya menjadi milik keluarga tetapi harus berbagi dengan berbagai tanggung jawab kampus. Karena itu, setiap capaian yang saya rasakan hari ini tidak pernah saya anggap sebagai hasil perjuangan pribadi. Di dalamnya terdapat kesabaran keluarga yang memilih untuk memahami, mendukung, dan tetap berjalan bersama saya dalam perjalanan yang tidak selalu mudah.

Syukur terbesar saya bukan hanya karena fakultas ini berhasil tumbuh dan berkembang. Syukur terbesar saya adalah karena dalam proses tersebut saya juga bertumbuh bersamanya. Saya bersyukur berada di lingkungan yang tidak memandang dosen semata sebagai pekerja yang harus memenuhi target-target tertentu. Saya merasakan bagaimana Yayasan dan pimpinan universitas membangun hubungan yang tidak berhenti pada batas-batas profesionalitas, tetapi juga menghadirkan bimbingan, kepercayaan, dan kepedulian yang tulus. Dari situ saya belajar bahwa institusi yang baik tidak hanya menghasilkan lulusan yang berkualitas, tetapi juga membentuk manusia-manusia yang bertumbuh di dalamnya.

Kini, ketika saya menoleh ke belakang dan melihat perjalanan sejak tahun 2021 hingga hari ini, saya memahami bahwa sesungguhnya saya tidak hanya ikut membangun sebuah fakultas. Pada saat yang sama, fakultas itu juga sedang membangun saya. Saya tidak hanya ikut mengembangkan institusi, tetapi institusi ini juga sedang membentuk cara saya memandang kehidupan, tanggung jawab, dan makna pengabdian. Apa yang lahir selama beberapa tahun terakhir bukan hanya program studi, bukan hanya pertumbuhan jumlah mahasiswa, dan bukan hanya capaian-capaian akademik. Yang juga lahir adalah versi diri saya yang lebih matang daripada sebelumnya.

Karena itu, bagi saya, UNIKI bukan sekadar tempat bekerja. Kampus ini adalah ruang tempat sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, dan harapan saya ditanamkan. Dan sebagaimana benih yang tumbuh perlahan di dalam tanah, waktu yang ditanam itu pada akhirnya tidak hanya melahirkan institusi yang berkembang, tetapi juga menempa diri saya menjadi pribadi yang lebih kuat secara akademik, lebih dewasa secara sosial, dan lebih memahami bahwa pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan akan selalu meninggalkan jejak. Bukan hanya pada tempat yang kita bangun, tetapi juga pada diri kita sendiri.