Bireuen – Fakultas Hukum Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Menggelar Seminar Proposal di Ruang Peradilan Semu UNIKI. Rabu, 1 April 2026. Sebanyak 14 Mahasiswa mengikuti Seminar Proposal tersebut. Salah seorang mahasiswa yang mengikuti seminar tersebut merupakan korban bencana Hidrometeorologi di Desa Kala Segi Kabupaten Aceh Tengah, Namanya Tiara Fitri Mahasiswa Fakultas Hukum semester VIII yang berjuang menyelesaikan proposalnya ditenda Pengungsian.
Saat ditemuai seusai melaksanakan Seminar Proposal Ia menceritakan Bencana yang melanda tempat tinggalnya tidak hanya merenggut harta benda, tetapi juga memaksanya dan keluarganya kehilangan tempat tinggal. Rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung harus rata dengan tanah. Dalam kondisi tersebut, Ia sempat merasa kehilangan arah dan hampir menyerah untuk melanjutkan kuliahnya. Saat memulai mengerjakan proposalnya tiba-tiba bencana datang.
“Saat itu saya sedang mengerjakan proposal di rumah bersama Ibu. Tiba-tiba, teriakan warga kalua air datang dari atas, saya dan Ibu sangat panik dan takut sekali, dan air sangat besar sekali, karena begitu terkejut saya pun menaruh leptop saya ke dalam mobil agar selamat.” Ujarnya mengenang saat bencana datang.
Akan tetapi takdir berkata lain. Mobil tersebut justru hanyut terbawa arus banjir. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, harapannya hampir sirna, termasuk untuk melanjutkan studinya.
Beberapa hari setelah bencana berlalu, Ayah Tiara berusaha mencari leptop yang hanyut demi keberlanjutan pendidikan anaknya.

“Jadi karena melihat tiara murung selalu, Ayah berusaha mencari Leptop itu, dan ia mengatakan, Kuliahmu jangan putus, bagaimana pun Ayah berusaha,’ begitu kata Ayah,” tutur Tiara dengan mata berkaca-kaca.
Usaha itu tidak sia-sia. Laptop yang sempat hanyut akhirnya ditemukan dalam kondisi masih bisa digunakan, meskipun tertimbun lumpur dan mobil dalam keadaan rusak parah. Momen tersebut menjadi titik balik baginya untuk bangkit kembali. Setelah melewati masa pemulihan selama kurang lebih dua bulan, ia mulai melanjutkan pengerjaan proposalnya. Dalam keterbatasan fasilitas, ia tetap berusaha menyelesaikan tugas akademiknya. Bahkan, ia harus mengerjakan proposal dari tempat pengungsian dengan memanfaatkan jaringan internet seadanya.
“Tiara ngerjain di pengungsian, pakai Starlink. Diusahakan bagaimana pun supaya tetap bisa lanjut,” jelasnya.
Saat ini, ia bersama keluarganya masih tinggal di rumah kebun yang berada jauh dari pemukiman. Kondisi tersebut tentu tidak ideal untuk aktivitas akademik, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya.
“Waktu itu Tiara sempat bilang ke Bapak Dekan Andi Lesamana, S.H., M.H yang juga sekaligus Dosen Pembimbing, bagaimana mau lanjut kuliah, sedangkan kami sudah tidak punya apa-apa. Kebun habis, rumah juga tidak ada,” ungkap Tiara mengenang masa-masa sulit yang ia alami.
Namun di tengah keterpurukan itu, secercah harapan tetap hadir. Dukungan dari dosen pembimbing menjadi salah satu penguat langkahnya. Tiara dibimbing oleh dua dosen, yaitu Andi Lesmana S.H., M.H sebagai pembimbing kedua dan Dian Eriani S.H., M.H sebagai pembimbing pertama. Keduanya memberikan kelonggaran dan pemahaman atas kondisi yang dialami Tiara.
“Jadi saya sampaikan ke teman-teman dosen agar tidak mempersulit mahasiswa yang terkena bencana, kalau tidak bisa datang ke kampus, bimbingan dilakukan secara daring” Ungkap Andi Lesmana.
Dian Eriani saat dikonfirmasi mengatakan Bahwa dalam situasi apanpun Pendidikan harus dituntaskan.
“Jadi Tiara ini sudah menelpon saya waktu itu, jadi saya hanya bilang, kamu harus tetapi menuntaskan kuliah, kalau belum bisa hadir dikampus Bimbingan secara online juga bisa” Ujar Dian Eriani.
Saat ini, Tiara bersama keluarganya masih tinggal di rumah kebun yang berada jauh dari pemukiman. Kondisi tersebut tentu tidak ideal untuk aktivitas akademik, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya.
Proposal yang tengah ia kerjakan mengangkat isu lingkungan dengan judul “Peran Pemerintah dalam Pemusnahan Cangkul Padang pada Ekosistem Danau Laut Tawar .” Penelitian ini menyoroti penggunaan alat tangkap ikan yang merusak ekosistem dan masih digunakan oleh sebagian masyarakat meskipun telah dilarang.
Di balik semua kesulitan yang dihadapi, Tiara menyimpan mimpi besar untuk masa depannya. Ia bercita-cita menjadi seorang hakim. Bagi Tiara, pendidikan adalah jalan utama untuk mewujudkan harapan tersebut.
“Alhamdulillah keluarga terus menyemangati, kalau ditanya cita-cita Tiara mau Menjadi Hakim, jadi Pesan kepada teman-teman yang juga saat ini sedang berjuang khususnya dalam pendidikan, Jangan menyerah ya, dimana ada kemauan maka ada jalannya.” Ujarnya sambil menanah isak tangis.
Kisah Tiara menjadi cerminan nyata bahwa semangat dan tekad mampu mengalahkan keterbatasan. Di tengah bencana yang melanda, ia tetap memilih untuk bangkit dan melanjutkan perjuangannya sebagai mahasiswa.
