Chairul Bariah, Dosen LLDIKTI Wilayah XIII Dpk Universitas Islam Kebangsaan Indonesia,
Kunjungan edukasi internasional merupakan langkah strategis bagi perguruan tinggi untuk memperluas cakrawala, memperkuat jejaring global, serta mengadopsi tata kelola pendidikan berstandar dunia. Demi mewujudkan visi tersebut, delegasi Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) melakukan kunjungan kerja dan studi tur ke salah satu kampus swasta terkemuka di Malaysia, INTI International University. Perjalanan ini bukan sekadar seremonial, melainkan kelanjutan dari komitmen kolaborasi riset dan penguatan akademik yang telah diinisiasi sebelumnya.

Kegiatan ini di dukung penuh oleh Bapak Amiruddin Idris dan Ibu Nuryani Rachaman sebagai pembina dan ketua Yayasan Kebangsaan Bireuen. Sesuai surat tugas Rektor Uniki, yang berangkat berjumlah 31 orang, terdiri atas 11 dosen dan 20 mahasiswa. Perjalanan dimulai dari kampus Uniki Blang Bladeh pada Senin, 13 Juli 2026, pukul 15.30 WIB menggunakan tiga unit minibus Toyota Hiace. Di awal keberangkatan, kelangkaan BBM di Bireuen sempat menguji kesabaran. Salah satu bus harus menunggu lama di SPBU tanpa kepastian, hingga akhirnya diputuskan untuk tetap melaju dengan bahan bakar seadanya.
Demi menghindari antrean panjang di jembatan Kuta Blang, rombongan mengambil rute alternatif melewati jembatan Awe Geutah. Setibanya di SPBU Simpang Kecamatan Makmur, bahan bakar pun kosong. Bus terpaksa kembali ke Kuta Blang untuk membeli minyak eceran sebelum melanjutkan perjalanan darat sejauh ±350 km menuju Medan dengan waktu tempuh sekitar 7,5 jam.
Rombongan tiba di Bandara Internasional Kualanamu pada hari Selasa pukul 03.30 WIB. Ketua rombongan, Ibu Mei Simahatie (Wakil Rektor I Uniki), segera mengumpulkan seluruh anggota. Di dalam bandara, agen travel Az-Zahra telah menunggu untuk memberikan pengarahan komprehensif mengenai prosedur kedatangan di Bandara Kuala Lumpur. Kegiatan ini turut didampingi oleh Pak Kamaruddin selaku Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama. Tepat pukul 06.00 WIB, pesawat lepas landas dan mendarat di Kuala Lumpur pada pukul 06.00 waktu setempat.
Hari pertama diisi dengan kegiatan studi tur dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Rombongan mengunjungi beberapa destinasi wisata ikonik seperti Putrajaya, Batu Caves, KLCC, dan Pasar Seni, sebelum akhirnya beristirahat di sebuah hotel di kawasan Bukit Bintang.
Mari mengenal INTI International University, berdiri sekitar 40 tahun lalu, Universitas ini telah memantapkan posisinya sebagai institusi pendidikan swasta paling dinamis di Malaysia. Kampus utamanya di Nilai, Negeri Sembilan, dirancang dengan konsep green campus modern yang memadukan fasilitas akademik mutakhir dengan lingkungan belajar yang asri.
Sebagai bagian dari jaringan pendidikan global, INTI dikenal luas karena komitmennya terhadap kesiapan kerja lulusan (employability). Kurikulumnya dirancang berbasis kebutuhan industri modern melalui kerja sama erat dengan ratusan perusahaan multinasional. Satu hal yang menonjol adalah keaneka ragamannya. Menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa dari puluhan negara, INTI berhasil melahirkan lingkungan belajar yang inklusif dan toleran, ditopang oleh sistem penjaminan mutu yang ketat, kemitraan riset internasional (joint research), serta fokus pada inovasi digital.
Untuk membuka jalur komunikasi, saya mencoba menghubungi Ibu Desinta, akademisi INTI yang sebelumnya pernah berkunjung ke Uniki untuk kegiatan akademik. Sambutan beliau sangat hangat, kami di arahkan untuk berkomunikasi dengan Miss Nasrah selaku Regional Head Indonesia dari International Recruitment & Career Centre (IRCC). Namun, saat itu kami disambut dan dipandu langsung oleh Miss Nur Hasanin untuk memasuki area dalam kampus.
Kampus INTI terbagi menjadi dua kompleks bangunan besar. Jika datang dari arah Kuala Lumpur, gedung rektorat berdiri kokoh di sebelah kanan jalan. Melangkah masuk ke rektorat, atmosfer akademik yang tertata rapi langsung terasa. Dinding koridor dihiasi foto-foto prestasi dan tokoh berpengaruh.
Satu catatan edukasi penting bagi kami adalah kedisiplinan sistem identifikasinya. Seluruh civitas akademika wajib mengenakan kartu identitas (Id card). Aturan ketat ini berlaku bagi pengelola, mahasiswa lokal, asing (baik program jangka panjang maupun short course), termasuk juga rombongan kami. Hal ini mencerminkan komitmen INTI dalam membangun budaya tertib, aman, dan profesional sejak dini.
Sinergi Akademik: Seminar Internasional
Pertemuan ilmiah dipusatkan di Aula berkapasitas lebih dari 1.000 orang, yang dilengkapi sistem suara dan pencahayaan standar pertunjukan. Acara dibuka oleh Dr. Khan Sarfaraz Ali selaku Director of IRCC.
Seminar diawali oleh Dr. Bahiah binti A Malek (Senior Lecturer II Faculty of Business and Communication INTI) dengan materi bertajuk “Empowering Digital Minds, Creating Global Impact”. Beliau mengajak mahasiswa membangun jiwa kewirausahaan digital memanfaatkan berbagai platform untuk menghasilkan produk yang dapat dipasarkan secara daring maupun luring. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dan hidup.
Selanjutnya, giliran pemateri dari Uniki memaparkan gagasannya, yang pertama Pak Kamaruddin dengan judul “Efficiency Revolution: Optimizing Generative Artificial Intelligence for SME (Small and Medium-sized Enterprises) Automation and Go-To-Market Strategy”, yang kedua Saya sendiri : “Aceh Bridging Tradition, Innovation, and Global Collaboration in the Era of Artificial Intelligence” .
Berikutnya Ibu Cut Santika: “Revitalisasi Bahasa Daerah Di Era Digital: Peran Perguruan Tinggi Dalam Melestarikan Warisan Budaya Dan Membangun Generasi Masa Depan”., Masyitah: “Physical Fitness Gymnastics: An Effective Strategy For Promoting Healthy And Active Lifestyles Among Students”., Raiyan: “Islamic Sharia Architecture: Uniting Morals, Knowledge, and Welfare in Aceh”. dan diakhiri oleh Vivi Asbar (Fakultas Komputer dan Multimedia): “A Hybrid ε-Constraint & Tabu Search Framework”.
Kegiatan seminar ini ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada presenter dan seluruh peserta oleh Prof. Dr. Goh Khang Wen selaku Pro Vice-Chancellor (Wakil Rektor) INTI International University.
Kunjungan ini turut menampilkan tarian Aceh, Tari Sare-sare dari prodi Pendidikan Seni Pertunjukan membuat penonton terpukau. Tarian yang dibawakan oleh dua penari laki-laki dan lima penari perempuan ini menggunakan media tali yang dirangkai secara estetis saat menari membentuk figur seekor ikan. Ketangkasan fisik juga ditampilkan lewat atraksi Pencak Silat bela diri dari prodi Pendidikan Jasmani.
Acara ditutup dengan penuh kehangatan melalui senam sehat bersama yang dipandu oleh Prodi Penjas dan Tim Uniki. Seluruh perwakilan INTI serta beberapa mahasiswa internasional ikut berpartisipasi aktif.
Bagi Uniki, kunjungan kerja ini memberikan pembelajaran yang sangat berharga, walaupun jauh berbeda, harus kita sadari bahwa pendidikan tinggi tidak boleh hanya berkutat pada teori, melainkan diiringi dengan praktik nyata, meningkatkan kerja sama dengan dunia industri, dan menggunakan teknologi sesuai denga perkembangan zaman, serta berorientasi pada pemecahan masalah di masyarakat. Sinergi ini mempertegas prinsip dasar yang harus dipegang teguh: tetap mencintai dan berpijak pada nilai-nilai lokal, namun memiliki visi serta cara berpikir global. [email protected]
https://aceh.tribunnews.com/opini/1032851/di-balik-viralnya-jembatan-apung-kepala-hiu-pante-lhong
