Tidak Ada yang Dibiarkan Berjalan Sendiri (Ketika UNIKI Memaknai Keluarga Lebih dari Sekadar Tempat Bekerja)

Oleh: Sri Yanna, S.Kom., MM

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Tidak semua orang beruntung menemukan tempat kerja yang dapat disebut sebagai rumah kedua. Banyak institusi mampu memberikan ruang untuk bekerja, tetapi tidak semuanya mampu menghadirkan rasa memiliki. Banyak organisasi memiliki sistem yang baik, tetapi tidak semuanya memiliki hati yang mampu merasakan kegelisahan anggotanya. Karena itu, ketika sebuah lembaga mampu menghadirkan kepedulian yang tulus di tengah kesulitan, di situlah sesungguhnya nilai kemanusiaan menemukan maknanya. Nilai itulah yang terus hidup di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI).

Belakangan ini, keluarga besar UNIKI kembali diingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Salah seorang dosen sedang menghadapi ujian yang berat. Ananda tercintanya harus menjalani perawatan intensif dengan kebutuhan biaya pengobatan yang cukup besar. Sebagai orang tua, tidak ada beban yang lebih berat daripada melihat buah hati terbaring sakit, sementara di dalam hati tersimpan begitu banyak harapan agar ia segera pulih dan kembali tersenyum. Dalam situasi seperti itu, seseorang sering kali tidak hanya membutuhkan bantuan materi. Yang lebih dibutuhkan adalah keyakinan bahwa dirinya tidak sedang berjuang sendirian.

Kabar mengenai kondisi tersebut kemudian sampai kepada keluarga besar UNIKI. Apa yang terjadi setelahnya menjadi gambaran nyata tentang bagaimana sebuah institusi memaknai kebersamaan. Tidak ada yang menunggu instruksi resmi. Tidak ada yang menunggu rapat panjang atau keputusan formal. Yang bergerak lebih dahulu adalah hati nurani. Melalui koordinasi Bidang Sosial yang dipimpin oleh Muhammad, S.Pd., M.Pd., informasi tersebut disampaikan kepada dosen dan karyawan. Respon yang muncul begitu cepat dan penuh kehangatan. Satu per satu uluran tangan datang. Ada yang membantu dalam jumlah besar, ada yang membantu sesuai kemampuan yang dimiliki. Namun tidak ada yang melihat nominal sebagai ukuran utama. Semua menyadari bahwa kepedulian tidak pernah diukur dari besar kecilnya bantuan, melainkan dari keikhlasan untuk berbagi ketika sesama sedang membutuhkan.

Dalam waktu yang relatif singkat, terkumpul donasi dengan jumlah yang cukup berarti untuk membantu meringankan beban keluarga yang sedang menghadapi cobaan tersebut. Seluruh proses pengumpulan hingga penyaluran bantuan difasilitasi dengan baik oleh Ibuk Sri Yanna, S.Kom., M.M. bersama bagian keuangan, sehingga amanah yang dititipkan oleh keluarga besar UNIKI dapat tersampaikan dengan baik. Namun sesungguhnya, yang paling menyentuh dari peristiwa ini bukanlah jumlah dana yang berhasil dikumpulkan. Yang paling berharga adalah pesan yang tersimpan di baliknya. Pesan sederhana yang mungkin tidak diucapkan secara langsung, tetapi begitu terasa maknanya: “Kami ada bersama Anda. Kami tidak akan membiarkan Anda menghadapi semua ini sendirian.”Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, pesan seperti itu menjadi sesuatu yang sangat mahal. Banyak orang hidup di tengah keramaian, tetapi merasa sendirian. Banyak orang bekerja bersama setiap hari, tetapi tidak benar-benar merasakan kebersamaan.

Tidak sedikit hubungan profesional yang berhenti ketika jam kerja berakhir. Namun di UNIKI, nilai yang tumbuh selama ini tampaknya melampaui sekadar hubungan kerja. Di kampus ini, dosen dan karyawan tidak hanya dipandang sebagai sumber daya manusia yang menjalankan tugas dan tanggung jawab. Mereka adalah bagian dari keluarga besar yang saling menjaga. Ketika ada yang berbahagia, kebahagiaan itu dirasakan bersama. Ketika ada yang sedang menghadapi kesulitan, kepedulian pun hadir tanpa perlu diminta.Mungkin inilah yang dimaksud dengan keluarga dalam arti yang sebenarnya. Keluarga bukan hanya mereka yang memiliki hubungan darah.