Oleh: Ristawati, M. Pd (Kepala TU Universitas Islam Kebangsaan Indonesia/Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh)
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi saat ini, perhatian publik sering kali tertuju pada akreditasi, jumlah mahasiswa, gedung megah, atau capaian akademik. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, padahal justru menjadi wajah pertama yang dilihat dan dirasakan setiap orang yang memasuki sebuah kampus: lingkungan.
Lingkungan kampus yang bersih, tertata, hijau, dan nyaman bukanlah sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia lahir dari visi, komitmen, dan kepedulian yang terus dirawat. Karena itulah, ketika para tamu dari LLDIKTI Wilayah XIII Aceh berulang kali menyebut Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) sebagai salah satu kampus terbersih yang mereka kunjungi, sesungguhnya pujian tersebut bukan hanya ditujukan kepada bangunan, taman, atau jalan kampus. Di balik semua itu, ada kerja panjang dan perhatian yang tidak pernah berhenti.
Di balik wajah hijau UNIKI, terdapat sosok perempuan yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan. Ia adalah Bunda Nuryani Rachman, MM, Ketua Yayasan Kebangsaan Bireuen.

Bagi sebagian orang, kebersihan mungkin dianggap sebagai urusan teknis yang cukup diserahkan kepada petugas kebersihan. Namun, bagi Bunda Nuryani, kebersihan adalah bagian dari budaya. Ia adalah cerminan karakter sebuah institusi. Karena itulah, perhatian terhadap kebersihan, tata ruang, penghijauan, dan kenyamanan kampus bukanlah program sesaat, melainkan komitmen yang terus dijaga dari waktu ke waktu.
Ada satu kebiasaan yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Setiap kali kembali dari perjalanan luar daerah, bahkan dari luar negeri, salah satu hal pertama yang dilakukan Bunda Nuryani bukanlah menghadiri rapat atau menerima laporan administrasi. Ia memilih berkeliling kampus. Memeriksa jalan-jalan kampus, taman-taman, pepohonan, ruang terbuka, kebersihan lingkungan, hingga sudut-sudut yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Bagi sebagian orang, tindakan itu mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir budaya yang kuat. Sebab kepemimpinan yang efektif sering kali bukan dimulai dari pidato yang panjang, melainkan dari keteladanan yang nyata.
Ketika seorang pemimpin memberikan perhatian pada kebersihan lingkungan, maka seluruh elemen organisasi akan memahami bahwa kebersihan adalah sesuatu yang penting. Ketika seorang pemimpin peduli pada pohon yang tumbuh di halaman kampus, maka pesan yang diterima bukan sekadar tentang tanaman, tetapi tentang tanggung jawab untuk merawat apa yang dimiliki bersama.
Dalam banyak kesempatan, kita sering berbicara tentang pembangunan kampus. Sayangnya, pembangunan sering kali dipahami sebatas pembangunan fisik berupa gedung dan fasilitas. Padahal, kampus tidak dibangun hanya dengan beton, besi, dan semen. Kampus juga dibangun melalui budaya.
Budaya menjaga lingkungan adalah salah satu fondasi penting yang menentukan kualitas sebuah institusi pendidikan. Lingkungan yang bersih menciptakan kenyamanan belajar. Lingkungan yang hijau menghadirkan ketenangan berpikir. Lingkungan yang tertata menumbuhkan rasa memiliki. Pada akhirnya, semua itu akan berpengaruh terhadap kualitas kehidupan akademik.
UNIKI hari ini mungkin dikenal sebagai kampus yang bersih dan hijau. Namun, yang lebih penting dari itu adalah lahirnya kesadaran kolektif bahwa kebersihan bukan sekadar urusan petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika. Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga pimpinan institusi memiliki peran yang sama dalam menjaga lingkungan yang telah dibangun dengan penuh kesungguhan.
Kampus yang bersih sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu kepada mahasiswanya. Ia mengajarkan disiplin tanpa harus berbicara. Ia mengajarkan tanggung jawab tanpa harus menulis aturan yang panjang. Ia mengajarkan penghargaan terhadap ruang publik tanpa harus menyelenggarakan seminar setiap hari.
Karena itu, ketika orang memuji wajah hijau UNIKI, sesungguhnya yang mereka lihat bukan hanya taman yang rapi atau halaman yang bersih. Mereka sedang melihat hasil dari sebuah kepemimpinan yang percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Dan di balik wajah hijau itu, ada seorang perempuan yang terus memastikan bahwa kampus ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman untuk bertumbuh, berkarya, dan menyiapkan masa depan.
Sebab pada akhirnya, merawat kampus bukan sekadar menjaga kebersihan. Merawat kampus adalah merawat peradaban. Dan setiap peradaban yang baik selalu lahir dari tangan-tangan yang peduli.
