Chairul Bariah, Dosen LLDIKTI Wilayah XIII Dpk Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen,
Jembatan adalah urat nadi yang menghubungkan satu wilayah ke wilayah lain yang terpisah oleh sungai, waduk, lembah, laut, atau jalan raya. Ketika sarana ini putus, aktivitas rutin masyarakat pasti terganggu. Hal inilah yang terjadi pada Jembatan Kuta Blang. Akibat hantaman banjir bandang dan tanah longsor tujuh bulan yang lalu, jembatan tersebut hingga saat ini masih dalam proses rehabilitasi.

Bagi masyarakat setempat, tujuh bulan bukanlah waktu yang singkat untuk hidup dalam keterbatasan akses. Sebagian bekas bencana telah dibersihkan, namun dampaknya masih terasa begitu nyata hingga hari ini. Agar roda ekonomi dan kegiatan mencari rezeki tidak terhambat, masyarakat terpaksa mencari jalur alternatif.
Jalur alternatif menuju dan dari wilayah barat (Banda Aceh) serta timur (Medan) dari Kuta Blang saat ini menggunakan jembatan bailey Awe Geutah melalui Desa Teupin Reudep. Namun, jalur ini hanya dapat digunakan oleh kendaraan dengan bobot maksimal 10 ton. Selebihnya harus menggunakan Jembatan Kuta Blang yang hingga kini masih menerapkan sistem buka-tutup.
Keadaan ini tentu menghambat kelancaran mobilitas masyarakat, padahal daerah yang dituju sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Sebagai contoh, masyarakat Pante Baro Kumbang yang ingin menuju Desa Pante Lhong. Sebelum musibah banjir bandang terjadi, terdapat jembatan penyeberangan yang menghubungkan kedua desa dengan jarak yang sangat dekat. Setelah jembatan itu putus, mereka harus memutar melewati Jembatan Awe Geutah yang membutuhkan waktu lama dan jarak tempuh yang jauh.
Untuk mengatasi keresahan warga, masyarakat sempat berinisiatif menyediakan alat transportasi penyeberangan alternatif berupa perahu ketek. Sayangnya, operasional ketek sering terhenti akibat derasnya debit air, bahkan sempat memakan korban jiwa.
Di tengah kegalauan dan situasi yang tidak menentu tersebut, lahirlah ide kreatif untuk membuat jembatan penyeberangan mandiri dari Pante Lhong ke desa tetangga, Pante Baro Kumbang. Ide ini dicetuskan oleh seorang pengusaha muda bernama Muakhir. Saya berkesempatan berbincang langsung dengan beliau beberapa hari yang lalu. Muakhir bercerita bahwa ide ini terinspirasi saat ia melihat kapal-kapal nelayan yang sedang bersandar sejajar di pesisir laut Jangka. Dalam benaknya spontan terpikir, “Jika di atas kapal-kapal ini dipasang lantai kayu, maka akan tercipta sebuah jembatan.”
Bergerak cepat, Muakhi mengajak rekan-rekannya berdiskusi untuk mewujudkan jembatan sederhana yang aman dilalui masyarakat. Mereka merancangnya secara tradisional tanpa melibatkan tenaga ahli atau arsitek, mulai dari menentukan bahan hingga merakit bagian per bagian. Bahan baku kayu ada yang langsung diproses di lokasi, dan ada pula yang disuplai dari panglong kayu milik Muakhir di Simpang Empat Gle Kapai, Kecamatan Peusangan. Seluruh proses pembuatan memakan waktu kurang lebih satu bulan.
Dalam obrolan kami, terpancar jelas aura seorang pengusaha muda visioner. Di usia yang relatif muda, ia berani mengambil langkah ekstrem yang mungkin dihindari pebisnis lain: berinvestasi pada infrastruktur publik yang sarat risiko teknis maupun finansial. “Setiap inovasi besar pasti membawa risiko yang besar pula. Tapi jika kita tidak berani memulai, potensi yang ada di daerah kita tidak akan pernah berkembang,” ungkap Muakhir dengan nada optimistis.
Proses pemasangan jembatan melibatkan sekitar 30 tenaga kerja. Ada yang bertugas menjaga keseimbangan, menarik tali, hingga mendorong agar bagian-bagian jembatan dapat menyatu sempurna. Uniknya, untuk menarik tali pengaman, mereka memanfaatkan mesin sepeda motor yang dimodifikasi—dua unit ditempatkan di sisi barat Desa Pante Baro Kumbang dan satu unit di sisi Desa Pante Lhong.
Akhirnya, pada tanggal 15 Mei 2026, jembatan ini resmi dioperasikan. Karena dibangun secara swadaya, operasional dan pemeliharaan jembatan ini memerlukan biaya yang dikelola secara mandiri. Tarif yang dibebankan kepada pengguna jembatan—sebagaimana tertera jelas pada papan informasi di ujung jembatan—adalah Rp5.000 untuk kendaraan roda dua, Rp10.000 untuk roda tiga (becak), serta Rp50.000 untuk kendaraan roda empat.
Muakhir menyampaikan bahwa dana yang diperoleh dari tarif tersebut murni digunakan untuk biaya operasional harian petugas, pemeliharaan berkala, kas Desa Pante Lhong dan Pante Baro Kumbang, kas pemuda desa, serta dialokasikan untuk santunan anak yatim di kedua desa tersebut.
Saya dan keluarga juga diberikan kesempatan untuk mencoba jembatan apung ini secara gratis. Saat ban mobil kami pertama kali menyentuh lantai jembatan, muncul rasa mendebarkan dan gemetar, namun sekaligus diselimuti rasa bahagia. Ternyata sensasinya tidak semenakutkan yang dibayangkan, terlebih saat itu debit air sedang tidak terlalu tinggi. Sesampainya di seberang sungai di wilayah Pante Baro Kumbang, kami kemudian berputar arah kembali ke Pante Lhong.
Kami merasakan langsung getaran dan ayunan lembut lantai jembatan. Dari jendela mobil, terlihat aliran air sungai yang mengalir deras di sisi Desa Pante Baro Kumbang, sementara di sisi Desa Pante Lhong arusnya cenderung lebih tenang. Pengalaman ini mengingatkan bahwa setiap pengendara memang harus tetap waspada dan berhati-hati.
Konstruksi jembatan ini sengaja dibuat fleksibel agar bisa menyesuaikan naik-turunnya debit air sungai. Jika volume air meningkat drastis atau terjadi banjir kiriman, demi keamanan bersama, jembatan akan ditutup total dan komponennya akan dibongkar sementara waktu oleh pengelola agar tidak hanyut terbawa arus.
Sistem peringatan dini pun telah disiapkan. Pengelola menempatkan petugas pemantau di beberapa titik hulu dan jalur sungai, seperti di Bener Meriah, Krueng Simpo, Benyot (Kecamatan Juli), hingga Darul Aman (Kecamatan Peusangan Selatan). Petugas-petugas ini berjaga dan siap melaporkan perkembangan secara cepat jika debit air mulai naik.
Saat ini, jembatan hanya diizinkan untuk kendaraan berbobot ringan. Demi menjaga kelancaran dan keselamatan, pihak pengelola Jembatan Apung Kepala Hiu menempatkan petugas di kedua ujung penyeberangan agar kendaraan melintas bergantian secara tertib. Kehadiran petugas ini memberikan rasa tenang sekaligus panduan navigasi yang sangat dibutuhkan pengendara saat melintasi bentangan sungai.
Di balik viralnya Jembatan Apung Kepala Hiu, ada kisah tentang pengorbanan, keberanian, dan kerja keras seorang pengusaha muda yang merangkul pemuda serta warga sekitar yang memiliki keahlian tradisional. Mereka bergerak bersama sebagai tim untuk menghidupkan kembali urat nadi ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh.
Muakhir berharap kepada pemerintah agar setelah rekonstruksi Jembatan Kuta Blang rampung, pemerintah juga dapat membangun jembatan permanen atau minimal jembatan gantung di lokasi Jembatan Apung Kepala Hiu saat ini. Semoga ekonomi masyarakat terus membaik dan bangkit kembali. [email protected]
